Part 10
<lj-cut text="READ MORE">Sudut pandang Tomohisa
Setelah Aku mendengar ucapan Ayukawa-san, entah mengapa ingatanku terlempar kembali ke masa itu. Masa ketika tragedi itu terjadi di hari pernikahanku. Walaupun kini hal tersebut sudah lama berlalu, Aku tidak mampu menghapusnya dari ingatanku.
-Tomohisa Flashback-
‘ting ting ting... ting ting ting ting ting...’
Sebuah panggilan masuk ke ponsel ponselku. Aku yang yakin sekali itu adalah telpon dari Mika segera melihat layar ponsel.
“ini Mika..”
Ucapku dengan lirih seakan beban yang tadi sempat berada di punggungku tiba – tiba menghilang. Wajah orang tuaku dan Ayukawa-san pun juga mulai tenang.
Aku pun segera menjawab telepon itu. Aku benar – bener menunggu suara Mika dari seberang sana yang mengabarkan jika dirinya dan Shiroki-san akan segera tiba di lokasi pernikahan.
“Mika? Dimana kamu? Kami semua sudah menunggu..”
Terdengar suara sedikit berisik dari tempat Mika menelpon.
“apakah Anda kenal dengan pemilik ponsel ini? Cepat datang ke perempatan Shoushin! Mereka mendapat kecelakaan!!”
Ekspresi wajahku seketika berubah. Kuhempaskan ponsel yang kugenggam ke lantai ruangan. Samar – samar Aku masih mendengar suara, ‘halo? Halo? Apakah Anda masih di sana?’
“ada apa Tomohisa? Apa yang terjadi?”
Ayukawa-san segera menyudutkanku dengan pertanyaannya. Aku tidak mampu menjawab. Mulut ini tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Mulut ini terkunci sejak Aku mendengar kata – kata kecelakaan melalui ponselku.
“Tomohisa?”
Ibuku melangkah maju untuk menggapai kedua bahuku.
“Mika kecelakaan..”
Akhirnya kata – kata itu terucap juga dari mulutku. Hanya itu. Selanjutnya, kaki ini dengan cepat membawaku keluar dari ruangan. Dengan cepat Aku berlari dan tidak mengindahkan tatapan tamu undangan yang menatap aneh kepadaku. Aku tidak memperdulikan siapapun kini. Baik orang tuaku, Ayukawa-san ataupun para tamu yang sudah lama menunggu. 1 hal yang ada di kepalaku, Mika. Mika.. tunggu Aku..
***
Perempatan itu ramai sekali. Penuh dengan orang. Entah mereka ingin menolong atau hanya ingin menonton. Mobil itu, mobil tua milik ayah Mika terbalik sekitar 600 meter dari perempatan. Keadaannya hancur. Tepat disebelahnya berhenti sebuah truk. Apakah mungkin truk itu yang menabrak mobil Shiroki-san?
“Mika!!! Mika!!”
Aku panik ditengah keramaian itu. Dengan cepat Aku melalui semua orang yang berdiri acak di sekitar lokasi kecelakaan.
“Mika!!!”
Aku melihatnya. Ia tergelatak di sebelah mobil tua Shiroki-san. Kepalanya berlumuran darah. Gaun putihnya berganti warna menjadi merah. Luka lebam terlihat merata di sekujur tubuhnya. Riasannya tidak nampak lagi. Matanya yang indah tertutup tidak sadarkan diri.
“Mika..!!”
Aku berlutut dan menggapai tubuhnya. Kupeluk tubuhnya yang sudah tidak sadarkan diri. Aku masih yakin dia tidak meninggal dunia. Aku pun tidak peduli dengan setelan yang kini sudah ikut berlumuran darah. Dan, air mata ini seketika mengalir.
“Otoosan!”
Itu suara Ayukawa-san. Dia juga ada di sini bersama kedua orang tuaku yang terlihat sangat syok. Ayukawa-san segera menghampiri ayah Mika yang akan ditandu oleh tim medis. Keadaanya tidak jauh berbeda dengan Mika.
Terus kupeluk erat dirinya. Dia tidak berdaya. Untuk pertama kalinya ia tidak membalas pelukanku. Aku benar – benar tidak ingin dia pergi. Aku begitu mencintainya. Tuhan, jangan bawa dia pergi. Kumohon..
“Mika, Aku tidak akan meninggalkanmu..”
Dengan terisak – isak kubisikkan kata – kata itu ditelinganya. Aku yakin ia bisa mendengarnya. Aku ingin ia tahu Aku selalu di sisinya. Aku benar – benar tidak akan meninggalkannya.
“maaf, kami harus membawanya segera ke rumah sakit.”
Seorang tim medis menghampiriku. Ia berusaha mengambil Mika dari pelukanku.
“izinkan saya ikut.. saya ingin bersamanya..”
Tim medis itu mengangguk dan menunjuk ke arah sebuah ambulans yang akan membawa Mika ke rumah sakit.
“segera naik ke dalam ambulans itu..”
***
Aku berdiri cemas di lorong UGD. Ayah dan Ibu terduduk di sebelahku. Wajah mereka terlihat khawatir. Ibuku dengan jelas terlihat menangis. Sama dengan diriku. Di dalam, hatiku menangis. Akulah yang paling bersedih di hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan ini. Kenapa ini harus terjadi? Tuhan, Aku mohon jangan lakukan ini..
Tidak lama, pintu UGD terbuka. Dari dalam Ayukawa-san keluar dengan mata bengkak. Sudah jelas ini menangisi suami dan anaknya di dalam.
“Tomohisa, masuklah..”
Ia mengajakku masuk. Dengan langkah gontai, Akupun memasuki ruangan UGD itu. Di dalam terasa tenang walau tetap saja tidak mampu mengganti suasana hatiku.
“Mika terluka parah. Dokter masih mengobati lukanya. Sementara ayah Mika, dia di sana..”
Ayukawa-san menunjuk ke arah tempat tidur yang ditutupi tirai putih. Setelah mendekat, kusingkap tirai itu. Dibaliknya Aku melihat orang yang akan menjadi ayah mertuaku terbaring. Wajahnya pucat. Kepalanya dipenuhi dengan balutan perban. Hidungnya dipasangi masker oksigen. Kulihat alat yang mengukur detak jantung Shiroki-san. Walau Aku tidak mengerti apa yang dimaksud mesin itu, Aku merasa yakin Shiroki-san dalam keadaan kritis.
“Tomohisa..”
Ia tersadar. Shiroki-san membuka matanya yang kini diapit luka – luka lebam. Ia mengangkat sedikit tangannya. Ia menyuruhku untuk mendekat. Aku pun melangkahkan kakiku untuk lebih dekat dengan tempat tidurnya.
“anda akan baik – baik saja.”
Aku berusaha menenangkan hatinya.
“dimana Mika?”
Ucap Shiroki-san terbata – bata.
“dia masih diobati dokter. Dia juga akan baik – baik saja.”
Aku menggenggam tangannya. Aku ingin ia merasa ada di tempat yang paling baik untuknya. Ia tidak perlu lagi merasa risau. Aku ingin dia tahu semuanya akan baik – baik saja.
“seharusnya ini menjadi hari terindah untuk Mika, Tomohisa..”
Shirok-san kembali berusaha mengeluarkan sepatah demi patah kata dari mulutnya. Aku tahu ia berusaha sangat keras untuk itu.
“ya..”
Aku mengangguk. Air mata pun serta merta mengalir kembali dari mataku. Ini adalah saat – saat yang begitu membuatku terharu.
“tolong jaga Mika, Tomohisa. Dia telah memilihmu menjadi orang yang akan bersamanya seumur hidupnya. Menikahlah dengannya..”
Shiroki-san mempercayakan Mika kepadaku. Aku tidak ingin dia berpikir dia akan meninggal. Tidak ada satupun dari kalian yang akan pergi. Ini tidak akan terjadi.. Ucapan Shiroki-san pun kujawab dengan anggukan dalam.
Kini kulihat sebuah senyum simpul hadir diwajahnya. Ia tersenyum seakan ia telah menyerahkan anaknya ke orang yang paling tepat. Setitik air matapun muncul di sudut matanya.
“Tomohisa. Kau bisa menemui Mika sekarang..”
Tiba – tiba Ayukawa-san muncul dari balik tirai.
Mika? Aku bisa menemui Mika sekarang?
“biar saya yang akan menjaga ayah Mika..”
***
Tut tut tut tut tut
Suara yang sama seperti yang kudengar dari mesin pengukur detak jantung milik Shiroki-san. Kini suara itu berasal dari mesin yang diletakkan di sebelah tempat tidur Mika.
Dia terbaring sekarat. Banyak sekali luka ditubuhnya. Luka – luka itu memerah. Aku seakan bisa merasakan sakit yang ia rasakan sekarang.
Kudekati dia. Kugenggam erat tangannya yang lemah. Di tangan kanan itulah Aku menyematkan cincin pertunangan kami. Cincin itupun masih di jari manisnya hingga kini.
Kembali Aku menangis. Kuberlutut di samping tempat tidurnya. Dengan sekejap semua kenangan indah itu muncul kembali. Ketika kita menghabiskan waktu bersama. Ketika untuk pertama kalinya Aku mengajaknya makan malam. Dan ketika Aku bertanya maukah dirinya menjadi pendamping hidupku untuk selamanya.
Tangan itu bergerak. Ia memberikan respon.
“Mika..”
Ucapku lirih.
Tak lama, ia berusaha membuka matanya perlahan.
“To- tomohi- sa..”
Ia memanggil namaku. Semakin erat kugenggam tangannya.
“iya, Aku di sini, Mika. Bertahanlah..”
Ia tersenyum. Aku terpana melihat senyuman itu. Aku merasa itu adalah senyuman terakhirnya.
“ja- jangan... tingg- galkan A- ak- aku..”
Ia menangis. Terbentuk sebuah aliran air mata layaknya anak sungai dari sudut matanya yang mengalami luka robek.
“tidak akan pernah. Aku akan selalu di sini..”
Aku berusaha menahan air mataku. Tapi Aku tidak mampu. Aku tidak mampu melihat penderitaannya.
“jang- jangan me- men- nangis..”
Aku berusaha tersenyum dan menghapus air mata ini. Mungkin lagi – lagi Aku terlihat begitu bodoh dihadapannya.
Kemudian, tangannya semakin menggenggam erat tanganku. Begitu erat seakan tidak ingin ia lepaskan.
“a- apakah kit- kita akan sel- selalu ber- bersam- ma?”
Aku hanya mengangguk. Mengangguk dengan begitu dalam agar ia yakin bahwa Aku tidak akan meninggalkannya.
“ter- terima kas- sih..”
Dengan sekejap matanya tertutup bersamaan dengan senyumannya yang terakhir.
Saat itu, seakan waktu berhenti. Sesaat Aku terhenyak. Apakah ini mimpi? Aku kembali menanyakannya. Tapi, jelas ini bukan mimpi. Tangan Mika yang tadi menggenggam tanganku dengan erat perlahan melepaskan genggamannya hingga akhirnya terjatuh di atas tempat tidur.
Aku memejamkan mataku. Aku tahan air mata ini untuk tidak mengalir. Aku menahan mulut ini untuk tidak meneriakkannya namanya. Aku tahan hati ini untuk tidak mengakui kepergiannya. Walaupun begitu, Aku tidak mampu.
“Mika.......”
Kugenggam erat tangannya. Kutundukkan kepadaku di sisinya. Setetes air mataku pun terjatuh di tangannya. Tepat diatas cincin pertunangan kami.
Mika, kenapa kamu meninggalkanku? Kamu yang mengatakan kita akan selalu bersama? Bagaimana dengan pernikahan kita? Kita akan menikah hari ini... Jangan pergi begitu cepat Mika... Jangan tinggalkan Aku..
“Tomohisa..”
Seseorang menyentuh bahuku. Aku berbalik dengan mataku yang basah dengan air mata.
“ayah Mika juga sudah tiada...”
Ayukawa-san mengatakannya dengan terisak. Air matanya tak henti – hentinya mengalir dari matanya. Kami berdua menangis di ruang UGD itu. Kejadian ini merupakan sebuah pukulan paling telak bagiku dan Ayukawa-san. Impian indah ku bersama Mika dengan mudah berganti hanya dengan hitungan jam. Pernikahan kami.. Awal dari kehidupan baru kami.. Semuanya hilang begitu saja. Hilang bersama dengan kepergian Mika ke sisi-Nya.
Bersambung..<lj-cut>